PELAJAR PUN MELEK TERUMBU KARANG
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengajak pelajar menyelamatkan
terumbu karang. Pelajar Bali mengusung gagasan Trihita Karana. Apa itu?
I Gede Putu, Ni Luh Putu, dan I Wayan Darya hidup dan besar di
pesisir pantai Bali. Mereka akrab dengan bau laut. Itu sebabnya, tiga
pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri 4 Denpasar ini pun fasih bercerita
tentang kondisi terumbu karang di lingkungan mereka di Desa Serangan,
Bali. Di sana terumbu karang berada dalam fase kritis.
Untuk
menyelamatkan terumbu karang di Serangan dari kerusakan lebih parah,
ketiganya menyarankan agar asas Trihita Karana, yakni asas yang
meliputi hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan
manusia dengan lingkungan, lebih digalakkan. Sebab, dalam pengamatan
mereka, di lapangan didapati hubungan positif di antara keduanya.

Salah
satu asas Trihita Karana di Serangan adalah adanya ritual rutin yang
disebut ngayah, yakni bekerja tanpa imbalan membersihkan wilayah
pesisir pantai bersama-sama. Para nelayan juga dianjurkan untuk tidak
menggunakan racun atau bom dalam menangkap ikan dan beralih dari
pengambil karang menjadi petani terumbu karang. ”Jadi, secara tak
langsung, mereka diajari membudidayakan terumbu karang,” kata Ni Luh
Putu.
Hasil penelitian tersebut mereka paparkan di hadapan
juri Kontes Inovator Muda III, yang diadakan oleh Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia dan Program Penyelamatan Terumbu Karang atau
Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap) di Jakarta
akhir pekan silam. Dari hasil paparan itu, ketiganya diganjar sebagai
pemenang. Mereka mengalahkan dua finalis lainnya, yakni dari SMAN 70
Jakarta dan SMAN 1 Wangi-wangi, Wakatobi.
Dalam makalahnya,
pelajar SMAN 70 Jakarta menyatakan bahwa kerusakan terumbu karang bukan
semata akibat ulah manusia, tapi juga karena adanya predator, seperti
binatang berduri. Binatang ini menetap pada terumbu karang dan
mensekresikan enzim agar terumbu karang itu hancur dan mengisapnya.
Adapun
tiga pelajar SMAN 1 Wakatobi menyoroti bagaimana sebuah desa melindungi
daerah lautnya secara mandiri. Di sana dikenal sistem buka-tutup atau
oumatahora dalam pelestarian terumbu karang. Sistem buka diperuntukkan
bagi kegiatan masyarakat yang mengadakan hajatan desa, sedangkan sistem
tutup untuk nelayan luar dan nelayan setempat yang menggunakan bahan
berbahaya dalam menangkap ikan.
LIPI, bersama Coremap, memang
ingin merangkul kaum muda untuk peduli terhadap lingkungan. Respons
yang datang untuk mengikuti karya ilmiah ini pun menggembirakan. Ada
155 makalah yang masuk. ”Kami berharap ada multiplier effect, yakni
mereka dapat menyebarluaskan informasi mengenai penyelamatan terumbu
karang kepada teman-teman, keluarga, dan lingkungan tempat tinggal
mereka,” ucap Dr Deny Hidayati, Koordinator Bidang Pendidikan LIPI.
Efek
secara langsung terhadap pelestarian terumbu karang dari lomba semacam
ini memang bukan yang diharapkan LIPI. Menurut Deny, tujuan utamanya
adalah menyertakan generasi muda dengan meningkatkan pengetahuan mereka
tentang terumbu karang dari segi penyelamatan dan pengelolaan. ”Jadi
yang kami harapkan adalah investasi jangka panjang,” katanya.
Selain
kepada generasi muda, LIPI dan Coremap getol memberikan penyuluhan
kepada para penduduk di pesisir pantai tentang penyelamatan terumbu
karang. Hasilnya, kata Mohammad Kasim Moosa, pengamat terumbu karang,
kesadaran masyarakat untuk memelihara terumbu karang kian meningkat.
Ini terjadi antara lain di Flores, Buton, Wakatobi, Raja Ampat,
Pangkap, Selayar, Biak, Tanjung Pinang, Selayar Lingga, Bintan,
Mentawai, Nias, Tapanuli Tengah, dan Natuna.
Sayangnya, di
beberapa daerah lain perbaikan kerusakan terumbu karang belum
menggembirakan. Masih banyak nelayan yang menggantungkan hidup pada
usaha mengambil terumbu karang lantaran tergiur iming-iming menda-pat
imbalan cukup besar dari para eksportir.
Dalam sebuah
penelitian LIPI diketahui bahwa kondisi terumbu karang di Indonesia
yang tergolong dalam kategori baik tinggal sekitar 6,5 persen. Yang
memprihatinkan, sekitar 70 persen termasuk kategori buruk dan sangat
buruk. Banyak faktor yang menjadi penyebab kerusakan terumbu karang
tersebut selain penggunaan bom dan racun oleh nelayan untuk menangkap
ikan, di antaranya pembangunan perkotaan, industri, atau pertanian yang
limbahnya lari ke laut.
Ada juga kerusakan secara alami. Ini
sulit diatasi, seperti gempa bumi, wabah, atau pemanasan global, yang
menyebabkan peningkatan suhu air sehingga ada alga yang hidup pada
jaringan polip dan menjadi karang berwarna putih atau disebut coral
bleaching. ”Ini indikasi terumbu karang itu akan mati,” ucap Mohammad
Kasim.
Daerah yang memiliki terumbu karang yang masuk kategori
baik salah satunya adalah Pulau Banda. Di sana partisipasi warga
setempat cukup tinggi, bahkan para pengusaha resor pun turut memiliki
andil dalam menjaga kelestarian terumbu karang. Adapun wilayah dengan
terumbu karang yang masuk kategori buruk adalah Pulau Seribu bagian
selatan, beberapa tempat di Kepulauan Riau, dan Aceh. Yang terakhir ini
disebabkan oleh bencana tsunami pada 2004.
Satu ekosistem
terumbu karang dihuni oleh 93 ribu hingga satu juta spesies. Meski
terlihat kukuh dan kuat, terumbu karang yang kaya akan plasma nutfah
ini rentan terhadap perubahan lingkungan, seperti tingkat kejernihan
air, arus, salinitas, dan suhu. Berbagai jenis binatang mencari makan
dan berlindung di sana. Secara keseluruhan, jumlah ikan, kerang, dan
kepiting yang dapat ditangkap dari ekosistem terumbu karang ini
mencapai 9 juta ton di seluruh dunia.
Indonesia memiliki
ekosistem terumbu karang mencapai 75 ribu kilometer persegi atau
terluas di dunia. Namun kondisinya kini cukup memprihatinkan. Kerusakan
terjadi di mana-mana. Padahal di perairan Indonesia ditemukan sekitar
362 spesies scleractinia (karang batu). Ini membuat Indonesia menjadi
pusat dari sebaran karang batu dunia.
Dalam upaya pelestarian
terumbu karang, pada awal 2000 LIPI melakukan penyadaran terhadap
masyarakat akan pentingnya keberadaan terumbu karang. Cara yang
dilakukan antara lain melakukan sosialisasi langsung kepada nelayan.
Namun kegiatan tersebut bukan tanpa hambatan. Tak jarang para nelayan
menolak ajakan untuk tak menggunakan cara-cara konvensional, seperti
memakai bom, dalam menangkap ikan.
Menurut Deny, yang harus
dilakukan pemerintah saat ini adalah memberikan edukasi secara paralel,
terus-menerus kepada pelajar, masyarakat umum, dan nelayan tentang
pentingnya keberadaan terumbu karang. ”Kami dari Bidang Edukasi LIPI
berfokus pada upaya pelestarian melalui pendidikan formal ataupun
nonformal. Kontes Inovator Muda ini merupakan kegiatan nonformal agar
pelajar sadar akan terumbu karang,” ucap Deny (http://www.oseanografi.lipi.go.id)
